Ditawari Jadi Menteri Oleh Baginda, Abu Nawas Malah Konsultasi dengan Burung

Tak lama kemudian, Abu Nawas ngeloyor menaiki keledainya. Utusan dan pengawal Baginda mengawalnya sampai Istana.

Begitu sampai di istana, Abu Nawas duduk di tempat biasa.Sedangkan utusan menemui Baginda, di ruang lain. Sang utusan bercerita bahwa Abu Nawas setengah gila. “Hamba lihat, Abu bicara dengan burung,” ujar utusan berkisah. Baginda penasaran juga.

“Kemana saja kamu?” tanya Baginda begitu melihat Abu Nawas berada di depannya.

“Mohon ampun baginda … Hamba sedang menjalankan mimpi hamba untuk uzlah ke hutan,” jawab Abu Nawas.

“Mimpi Apa?”

“Mimpi bertemu ayah hamba. Beliau berpesan agar hamba menyepi untuk sementara waktu agar dapat wangsit,” ujar Abu Nawas.

“Terus sekarang sudah dapat wangsit?” tanya Baginda penasaran.

“Sudah baginda,” jawab Abu Nawas.

“Apa wangsit yang kamu peroleh?”

“Mohon ampun Baginda. Ini tentang Baginda.”

“Hah, tentang saya? Tentang apa itu?” desak Baginda. “Ayo ceritakan.”

“Berdasarkan cerita burung, jika Baginda hendak melakukan reshuffle para menteri hendaknya memilih figur-figur yang benar-benar lebih baik dari menteri yang ada saat ini,” tutur Abu Nawas.

“Ya, sudah pasti itu,” sergah Baginda. “Memangnya kamu bisa berbicara dengan burung?” tanya Baginda memastikan.

“Begitulah, Baginda,” jawab Abu Nawas mantap. “Berdasarkan cerita burung, Baginda hendaknya jangan mengangkat menteri yang ciri-cirinya seperti saya,” lanjut Abu Nawas.

“Ah, burung kok dipercaya,” ujar Baginda tertawa. “Jadi kamu menolak menjadi menteri?” tanya Baginda kemudian.

“Bukan begitu, Baginda. Ini berdasar cerita burung jika Baginda ingin negeri ini baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” ujar Abu Nawas. “Burung itu adalah burung ghaib. Burung yang dikirim dari langit,” lanjut Abu Nawas serius.

Baginda tampaknya mulai mempercayai juga omongan Abu Nawas. Apalagi begitu melihat wajah si cerdik ini yang serius. Lagi pula untuk apa Abu Nawas menyepi di hutan jika itu tidak masalah serius?

“Lalu, jika kamu tetap saya tunjuk jadi menteri, apa yang akan terjadi?” ujar Baginda setelah lama terdiam.

“Petaka, baginda,” jawab Abu Nawas spontan.

Baginda geleng-geleng kepala. “Baik kalau begitu, tapi ada syaratnya. Bantu saya memilih figur-figur yang cocok untuk menteri mendatang,” ujar Baginda kemudian.

Abu Nawas pun segera mengiyakan. Ia mohon diri, pulang dengan langkah ringan. Ia girang setengah mati bisa lolos dari jabatan yang sarat masalah itu.

Artikel asli : sindonews.com

(Visited 27 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1xbet casino siteleri casino siteleri betpasbahçeşehir escort bahçeşehir escort cossinc cratosslot vdcasino asyabahis sekabet ikitelli eskortsi5.org